Obrolan santai sore itu begitu hangat di sebuah stasiun radio milik Pemerintah Tanah Bumbu, kali ini narasumbernya adalah Sahabat Rumah Belajar dari Kabupaten Tanah Bumbu yang diwakili empat orang SRB yaitu, Elsi Damayanti, Rafii Hamdi, Apriliawati dan Irwansyah, mereka berempat menceritakan tentang apa itu SRB, sampai bagaimana akhirnya mereka bisa menjadi SRB, canda tawa terjadi hal itu dibuat sedemikian rupa oleh pembawa acaranya saat itu, terlebih saat kami menceritakan pengalaman ketika mengikuti setiap level dari tahapan demi tahapan kegiatan Pembatik 2021 yang banyak diminati guru-guru se “Nusantara Raya” (Indonesia), tahun ini saja jumlah peserta dari Kalimantan Selatan saja di level 1 berjumlah 1653 orang, bayang kan coba, belum itu se Indonesia perkiraan peserta nya 83.922 orang, dan setiap level jumlah peserta akan terus mengerucut.
Pada dasarnya kegiatan pembatik ini merupakan sebuah ajang resmi yang dibuat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek melalui Pusat Data dan Informasi untuk mensuport guru-guru di Indonesia untuk aktif dalam pembelajaran berbasis TIK dan dalam kegiatan ini akan dipilih setiap kabupaten untuk menjadi seorang Duta Pembelajaran Berbasis TIK yang terlebih dahulu setiap provinsi di jaring 30 besar peserta pada level 4 yang merupakan level puncak dari setiap tahapan seleksi.
oh… ini berarti bisa dibilang sebuah kompetisi?
bisa dibilang seperti itu mas, tapi intinya kami yang masuk 30 besar ini merupakan bagian dari jumlah besar itu sebelum nya, dan patut disyukuri tahun ini Tanah Bumbu menjadi peserta terbesar yang berhasil masuk dalam 30 peserta terpilih dalam kegiatan itu.
what...gitu ya? yoi bro,, Alhamdulillah banget, (tawa ringan pun terjadi pada sesi tanya jawab itu)
Secara bergiliran kami menyampaikan apa saja yang dilakukan pada setiap level baik di level 1 sampai di level 4 ini. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara nya mengkampanyekan atau mensosialisasikan kepada siswa dan guru dalam pemanfaatan teknologi informatika di zaman disrupsi teknologi saat ini, dan itu harus terutama kepada siswa yang sangat dekat dengan teknologi, mereka harus mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan benar, dan bagi guru-guru pun harus bisa mengupgrade ke ilmuan nya, sebab mereka berada di zaman yang yang berbeda ketika di masa mereka menjadi siswa dahulu, terlebih bagi guru - guru milenial, di pundak guru - guru milenial ini lah masa depan pendidikan Indonesia berada, sebab sekarang sudah terjadi pola perubahan tonggak kepemimpinan dalam pendidikan, regenerasi sudah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia, banyak guru - guru senior yang sudah banyak masuk masa pensiun dan bahkan sudah pensiun dan pencetak kader bangsa berada di tangan guru - guru milenial jangan sampai para guru - guru muda ini tidak sadar bahwa siswa yang mereka ajar saat ini adalah siswa yang sangat paham dengan teknologi, dan mereka harus mampu mengimbangi nya.






0 Comments:
Post a Comment