Pendidikan di Indonesia
dihadapkan dengan generasi milenia, ciri khas utamanya adalah pemanfaatan
teknologi tanpa batas, terutama teknologi informatika, teknologi ini sudah
menjalar sampai ke tingkat Sekolah Dasar. yang menjadi pertanyaan, masihkah
kita sebagai guru bertahan menerapkan metode yang tradisional, mengandalkan
satu sumber informasi dan disampaikan secara klasikal di depan kelas?.
Ini yang menjadi kata
kunci, pendidikan tradisional yang tergusur arus zaman, semua lini keilmuan
guru harus di upgrade, paradigma pola pikir dan keahlian guru mesti diubah dan
ditambah untuk menyeimbangkan pola modernisasi generasi milenia tersebut.
Dalam peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 pasal 52 menerangkan bahwa, peran guru sebagai
pembimbing dan melatih peserta didik, ini dipertegas lagi dalam Permendikbud
Nomor 22 Tahun 2016, bahwa perubahan peran guru sebagai satu-satunya sumber
belajar, menjadi belajar berbasis aneka sumber ilmu. Dengan perubahan prinsip
dasar guru tersebut, menuntut guru untuk lebih kreatif, inovatif dalam
merancang pembelajaran yang akan disajikan di dalam kelas.
Penulis dalam hal ini
seorang guru berupaya menyusun skema pembelajaran yang diberi nama “Belajar
dengan Topeng” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Belajar mempunyai arti
berusaha memperoleh kepandaian. Sementara Topeng mempunyai arti memakai sesuatu
untuk menutupi maksud sebenarnya. Filosofi dari dua kata yang penulis gunakan
yakni Belajar dan Topeng mempunyai makna siswa memperoleh ilmu tanpa menyadari
bahwa ilmu yang mereka miliki dapat digunakan secara langsung dalam kehidupan
sehari-hari. Akan tetapi, di akhir pembelajaran penulis sebagai guru dalam
kesimpulan pembelajarannya akan menjelaskan bahwa apa yang sudah mereka lakukan
dapat bermanfaat bagi kehidupan. Secara umum, skema pembelajaran yang dimaksud
penulis Belajar dengan Topeng, menekankan pada kata Topeng yang
merupakan singkatan kata dari Teknologi Penerapan Langsung, arti dari padanan
kedua kata tersebut artinya yakni, siswa dalam belajar dituntut untuk dapat
membuat karya nyata yang dapat bermanfaat bagi masyarakat, dengan memanfaatkan
teknologi informatika (smartphone) yang dimilikinya sebagai sarana mencari
ilmu, namun metode yang diterapkan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa sekolah
dasar. Penulis sebagai guru, tidak mewajibkan diri menuntut hasil yang sempurna
dalam memberikan penilaian proyek tersebut, namun lebih memberikan pembelajaran
bermakna, sehingga siswa tidak meraba-raba dalam menyerap teori yang terkandung
dalam teks buku bacaan.
Skema yang penulis susun
ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan model pembelajaran IBL (Inquiry Based
Learning), namun penekanan nya pada saat proses pembelajaran, peran guru
sebagai pembimbing materi, memberikan materi pelajaran secara umum dalam buku
pembelajaran kurikulum 2013, kemudian siswa membuat peta konsep untuk mengambil
kata-kata penting yang disajikan dalam materi, dari peta konsep yang sudah
dibuat, siswa memberikan kesimpulan sementara, setelah proses pembuatan peta
konsep selesai dan siswa mempresentasikan nya di depan kelas, kemudian guru
melemparkan sebuah pertanyaan pemancing yang mengarah pada pembuatan sebuah
alat yang dapat digunakan sesuai dengan peta konsep yang siswa susun, contoh
pertanyaan yang penulis berikan adalah, alat apa yang dapat menggambarkan peta
konsep yang telah kalian buat?, kemudian siswa menarik kesimpulan sementara
lagi untuk mencari informasi yang relevan di berbagai sumber belajar, dengan
memanfaatkan smartphone yang mereka bawa, secara berkelompok mereka mengorek
informasi yang ada di google, setelah kesimpulan sementara didapat, siswa
dituntut untuk mengkomunikasikannya kepada orang tua, hal ini penting, dengan
dilibatkannya orang tua menjadi teman diskusi dari rencana proyek yang mereka
buat, membuat spirit emosional anak akan meningkat, tingkat kepercayaan diri
dan rasa ingin tahu terhadap apa yang akan mereka buat akan semakin tinggi.
Setelah proses penyempurnaan perencanaan, guru mengarahkan siswa untuk terlebih
dahulu membuat rancangan bahan yang digunakan dan sketsa gambar dari alat yang
akan mereka ciptakan. Setelah proses itu mereka laksanakan, baru mereka membuat
benda riil dari apa yang telah mereka rancang.
Gambaran skema
pembelajaran yang penulis rancang tidak luput dari kekurangan maupun kelebihan
yang penulis temukan pada setiap proses kegiatan nya. Kekurangan pada kegiatan
ini ada pada saat proses pelaksanaannya dimana memerlukan waktu yang lama, hal
ini dikarenakan kegiatan ini dirancang secara berproses, tahapan yang dilalui
siswa yaitu pra kegiatan yang meliputi mengungkap kasus yang ada pada materi
yang disajikan, mengolah kata dengan membuat peta konsep, kemudian pada tahapan
pelaksanaan siswa melakukan penelitian secara langsung dengan cara audiensi
baik kepada orang tua, maupun narasumber yang berkaitan langsung dengan materi
yang diajukan, tahan lanjutan yaitu pengolahan data yang didapat dari sumber
langsung maupun media online, pada tahap akhir siswa memulai memproduksi atau
membuat prototype teknologi tepat guna yang sudah dirancang nya, dengan
rentetan kegiatan yang panjang tersebut tentu memakan waktu yang panjang.
Sementara kelebihan yang
penulis ungkap pada kegiatan ini adalah antusias siswa terhadap pembelajaran
sangat tinggi, siswa aktif dalam setiap proses KBM dan pada analisis hasil
assessment yang dirancang penulis untuk mengukur kemampuan siswa, terbukti
dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa baik secara individual maupun secara
berkelompok, kegiatan ini juga mampu mengasah kreativitas siswa serta mengasah
keberanian siswa untuk berinteraksi secara struktural kepada orang tua maupun
narasumber yang menjadi audiens nya.
Upaya penulis dalam
merancang skema pembelajaran “Belajar dengan Topeng” atau Belajar dengan
Teknologi Penerapan Langsung sebagai bentuk melatih diri meningkatkan
kreativitas penulis sebagai guru untuk menyajikan materi kepada siswa, selain
itu dengan selalu mengasah kemampuan diri, penulis sebagai guru berupanya
menjawab tantangan pada dunia pendidikan kedepan nya.
Selain itu dengan
menerapkan pembelajaran tersebut diharapkan siswa dapat langsung menyerap
informasi yang ingin disampaikan pada sebuah materi, tentu rancangan
pembelajaran “Belajar dengan Topeng” ini jauh dari kesempurnaan sehingga
memerlukan koreksi dari segala sisi.
Publis RadarBanjarmasin
Kolom PGRI Tanbu 6 Desember 2019
Kolom PGRI Tanbu 6 Desember 2019






0 Comments:
Post a Comment