Sangat kita sadari, perkembangan teknologi sudah maju begitu pesat, dampak dari itu sangat terasa pada dunia pendidikan pada saat ini, banyak anak abai dalam mengulang pelajaran dirumah nya, mereka lebih suka bermain game atau sosmed melalui perangkat yang mereka punya maupun orang tua mereka punya. Pergeseran cita-cita mereka di masa depan pun sudah terjadi, dulu dimasa penulis kanak-kanak, merasa bangga ketika guru menanyakan cita-cita dan menjawab nya ingin jadi Presiden, atau Pilot bahkan Tentara, namun generasi saat ini mereka lebih bangga menjadi gamer, selebgram atau tik-tok ker, salah kah itu?,tentu tidak, namun apa yang mereka gambarkan dari cita-cita mereka itu tidaklah luput dari bahasa digital, situasi itu tidak jauh dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka lakukan yakni seputar teknologi informatika yang mereka punya dan mudahnya akses internet yang juga mereka dapat, situasi ini pasti ada disekitar kita baik di lingkungan rumah maupun sekolah, percakapan mereka tidaklah jauh yaitu soal game dan sosmed, kemampuan mereka dalam mencari informasi secara mandiri tentang bagaimana menginstal aplikasi game, memainkan game online tersebut sangatlah luar biasa, kemampuan anak kelas 4 sekolah dasar itu sudah melampaui kemampuan orang dewasa dalam penggunaan teknologi digital.
Cerita yang tergambar di atas merupakan assessment diagnosis yang penulis lakukan pada awal tahun ajaran lalu di kelas 4 SD Negeri 2 Sarigadung yang penulis ampu, situasi itu membuat saya selaku guru mereka dimana cerita diatas terjadi mulai berpikir, mulai mencari cara, dan membuat sebuah pertanyaan besar di kepala, bagaimanakah cara agar mereka bisa memanfaatkan teknologi yang mereka punya lebih bermanfaat dan alat yang mereka miliki itu tidak hanya mereka manfaatkan kepentingan hiburan belaka, namun menjadi alat untuk menambah variasi belajarnya di rumah. Kemampuan mereka menyerap dan mencari informasi secara mandiri itu lah yang penulis terapkan dalam kegiatan belajar kelas, saya selaku guru kelas mereka, ini menjadi daya tarik sendiri, sehingga saya berpikir, meski saya tidak mengajari mereka atau tanpa memberikan tutorial kepada mereka, tentang bagaimana membuat sesuatu di dunia maya, mereka pasti akan mampu mencari caranya secara mandiri.
Kemampuan mereka berkolaborasi dalam bermain game tidak memandang apakah temannya pintar matematika atau tidak, apakah teman mereka peringkat satu atau peringkat paling akhir, yang mereka nilai adalah mampu bermain game online, mampu bermain sosmed atau tidak, keunikan alami ini akan menarik jika dibawa ke dalam kegiatan pembelajaran, diferensiasi sesungguhnya sudah mereka terapkan di luar jalur pendidikan dan saya menilai ini akan menarik jika dibawa dalam proses pembelajaran yang berbasis karya digital.
Sehingga pada suatu saat, saya menemukan platform animasi digital berbasi AI (artificial intelligence ) yang bernama Animate From Audio, media ini mempunyai cara kerja yang simpel dalam pembuatan animasi, pengguna hanya cukup login dengan akun email, kemudian merekam suara yang bisa dilakukan melalui handphone, kemudian rekaman audio tersebut di upload ke dalam aplikasi itu, tentu dengan karakter yang bebas kita tentukan dari dalam aplikasi tersebut, maka kita sudah memiliki animasi yang dapat bergerak dan berbicara sesuai dengan suara kita sendiri. Melihat langkah yang mudah itu tentu murid yang saya ampu di kelas 4 yang konon menurut teori perkembangan anak Jean Piaget, Pase pada anak usia itu ada pada operasional konkret, anak usia itu cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika atau operasi, akan tetapi hanya untuk objek fisik yang ada pada saat itu. Melihat situasi itu, saya merasa yakin, mereka murid saya kelas 4 itu akan sangat mudah untuk memahami cara kerja dari aplikasi digital berbasis AI yang bernama Animate From Audio itu.
Aplikasi digital pembuat animasi berbasis AI (artificial intelligence) yang saya gunakan ini menjadi varian atau warna belajar baik ketika di kelas maupun di rumah, murid saya dapat menjelaskan kembali penjelasan materi yang saya berikan di kelas secara berkelompok kemudian mengulas nya kembali atau menceritakan kembali materi yang mereka pahami itu melalui topeng animasi berbasis AI (artificial intelligence) dengan karakter menarik yang mereka suka, yang dapat mereka upload ke dalam sosial media yang mereka miliki.
Pembelajaran yang saya rancang berhasil membuat mereka mempunyai produk digital berupa animasi, mereka mampu memahami cara kerja aplikasi nya tanpa saya jelaskan secara detail melalui tutorial sekalipun. Keberhasilan lain nya adalah ketika pembelajaran di kelas saya, mereka saling berkolaborasi dan saling menghargai kemampuan masing-masing teman sesama kelompok nya terlebih ketika kegiatan di kelas di dalam satu kelompok mereka mempunyai kemampuan yang berbeda-beda tidak sama, sehingga terjadi tutor sebaya diantara mereka. Kemudian lagi, di setiap kelompok terdapat ahli teknologi yang menjadi mentor bagi teman-teman nya di kelompok, unik nya banyak ahli teknologi dalam kelompok ini dipilih bukan anak yang pintar matematika, atau pintar semua mata pelajaran, namun secara acak terpilih memang mereka yang mempunyai kemampuan menyerap informasi teknologi digital dengan baik,sehingga diferensiasi yang alami seperti saya ceritakan diatas terjadi di dalam kelas.
Selain itu, keberhasilan lain yang menurut saya ketika menerapkan kegiatan pembelajaran melalui karya animasi digital ini, yakni mereka mampu memecahkan masalah mereka secara mandiri, kemampuan mereka mampu menganalisis materi untuk disampaikan secara lisan, ,kemampuan mereka berkomunikasi dengan baik juga terasah, selain skill digital yang digunakan untuk belajar, kemampuan dalam memanfaatkan teknologi secara positif perlahan akan lebih baik.
Strategi pembelajaran teknologi informatika atau TIK dimana guru menampilkan karya nya melalui proyektor sebagai media presentasi, menurut saya sudah tidak relevan lagi, hanya sedikit kemampuan kognitif siswa bisa tergali, hanya kemampuan menyerap informasi pelajaran saja yang tercapai, berbeda jika mereka yang membuat dan menyajikan karya teknologi informatika atau karya digital sendiri, banyak manfaat bagi siswa kita. Kemampuan teknologi siswa kita jauh lebih hebat dari pada kita, maka manfaatkan itu untuk jadi bahan belajar mereka, dan kita dibekali strategi dan model pembelajaran, maka manfaatkan itu dengan baik.








0 Comments:
Post a Comment