anang, ketika masih muda, kai su
anang merupakan seorang seniman khas Banjar,
dia bisa memainkan beberapa alat
musik tradisional khas banjar diantaranya
babun, serunai dan panting, namun
spesialis yang alat musik yang dimainkan nya
adalah panting, selain itu dia
juga ahli dalam permainan khas daerah yaitu
balogo, pada masanya dia sering
juara dalam setiap perlombaan balogo tersebut.
Akhir-akhir ini kai su anang mulai
resah, karena banyak anak muda
sudah tidak mengenal lagi alat musik dan
permainan daerah, sanggar musik
yang didirikannya akhirnya sepi dari peminat,
hal ini dikarenakan anak-anak
muda jaman sekarang lebih menyenangi hal-hal yang
berbau modern. Terlebih lagi
anak-anak ya pun setelah dewasa dan berkeluarga
banyak yang merantau yg akhirnya
dia tinggal sendiri dirumah.
Akhir-akhir ini kai su anang mulai
gundah gulana, dia masuk ke
sebuah ruangan yang dijadikan nya sanggar yang
dipenuhi dengan alat musik
tradisional milik nya, dia memperhatikan di
sekeliling dimana kejayaan nya
bermain musik tempo dulu, namun tatapan nya begitu
sedih, sambil berjalan
tertatih-tatih mencari tempat duduk, sambil menghela
nafas dia duduk di pojokan dekat
alat musik panting dimana dia sering
memainkannya, diambilnya alat
musik tersebut, di petiknya senar alat musik
tersebut, bosan mulai menghantui
nya, dia pun bangkit dari duduk nya menuju
lemari-lemari yang penuh dengan
foto-foto dan piagam penghargaan di tempat nya
satu demi satu, sampai tatapan
matanya tertuju pada sebuah benda yang berupa
sebuah stik pemukul logo yaitu
campa dan benda kecil berbentuk segitiga yaitu
logo.
Dia mulai memegang-megang dua alat
tersebut, dia pun mulai berpikir
untuk memainkan nya, karena dia ingat ketika
dulu dia pernah jadi juara dalam
permainan ini, kai su anang mulai ke pekarang
rumah nya, dia mulai meletakkan
logo nya di tanah, dan dia pun mulai memukul
logo tersebut dengan campa yang
di pegang nya, letak, pukulannya meleset hal
ini akibat matanya yang mulai
kabur, namun ketika dia memukul kembali campa yg
di pegang nya, tapi sayang campa
tersebut patah karena pukulan nya terlalu
keras, dia pun mulai sedih dan
berharap ada orang yang bisa meneruskan kesenian
khas daerah banjar ini.
Karya : Rafii Hamdi






0 Comments:
Post a Comment