Loading...

MONYET YANG CURANG

Pengarang: Dinda Ayu Roswanda

Kelas 4

 

Disebuah hutan hiduplah dua sahabat,  kelinci dan monyet merupakan binatang saling bersahabat, mereka selalu bersama dalam suka maupun duka, dalam persahabatan tersebut selalu saja terjadi masalah ini karena ulah si monyet  yang selalu usil dan curang, namun meski begitu keduanya selalu hidup dalam kebersamaan karena sifat pemaaf dari salah satu sahabat nya si kelinci

 

Suatu hari monyet ingin mengajak sahabat nya si kelinci untuk memancing ikan, namun kali ini tempat yang dituju lumayan jauh dari biasanya mereka memancing, karena menurut monyet sungai dekat mereka tinggal sudah jarang ditemukan ikan yang besar.

 

Kelinci, maukah kamu ikut aku memancing” ajak monyet pada kelinci.

Em… boleh, tapi dimana”  jawab kelinci pada monyet

kita ke sungai dekat hutan seberang yu, sungai di dekat sini sudah jarang ditemukan ikan yang besar” kata monyet sedikit membujuk kelinci.

boleh… tapi jangan hari ini ya?” jawab kelinci lagi

“ baik kalau begitu, sekalian nanti kita siapkan umpan dan bekal selama di perjalanan”  jawab monyet

 

Hari itu mereka mempersiapkan bekal masing mereka untuk memancing esok hari, tidak lupa kelinci mencari cacing sebagai umpan nanti, sementara si monyet sibuk menyiapkan buah -  buahan untuk bekal nya sehingga dia lupa mencari cacing sebagai umpan ikan, hari terus berlalu aktivitas mereka hari itu terlalu bikin sibuk sehingga mereka berdua tertidur dengan lelap nya.


Dari kejauhan suara ayam mulai berkokok tanda mentari pagi mulai menampakkan wajah nya di sela sela kegelapan, kuning keemasan warnanya tanda hari akan cerah di siang itu.

“Huaah…..suara kelinci menguap sambil merenggangkan badan nya”, matahari sudah memancarkan cahaya terangnya. Kelinci pun bergegas ketempat monyet.

monyet…ayo bangun, katanya mau mancing”.

Dengan memalas monyet pun membuka matanya.

ia ci… jadi, tapi masih ngatuk neh”;

ayo…nanti kesiangan, keburu ikan nya kenyang lo”  kata kelinci pada monyet.

ia ia… ah bawel amat sih” kata monyet sedikit sewot karena dibangunkan kelinci.

kelinci penuh semangat bergegas mendahului monyet ke luar rumah, sambil  bernyanyi kelinci menunggu monyet di depan rumah.

ayo…nyet, buruan, nanti matahari nya makin panas”, teriak kelinci

ia… bawel”, kata monyet sambil melangkah keluar rumah.

 

Dengan penuh kegembiraan, mereka berjalan menapaki jalan setapak di tepian hutan yang teduh, canda gurau menemani perjalanan mereka menuju tempat yang direncanakan, tawa renyah pun terpampang jelas di wajah mereka, mengusir rasa lelah dalam perjalanan, khayalan mendapatkan ikan besar dan banyak sudah terpancar di mata mereka berdua, terbayang betapa enak nya ikan bakar segar sudah nampak jelas di kedua sahabat itu.

  Tanpa terasa pantulan cahaya matahari di beningnya air danau menyilaukan mata mereka, tempat yang mereka  tuju untuk memancing sudah semakin dekat, membuat mereka semakin semangat.

 “ayo..cepat itu sungai nya”  kata monyet kepada kelinci

ia … nyet… ia “ kata kelinci  tergopoh gopoh

  Empat, sepuluh langkah akhirnya mereka tiba di sungai, tempat mereka mengharapkan asa untuk mendapatkan tangkapan besar dan nikmatnya ikan bakar yang selama  dalam perjalanan mereka hayal kan. Bergegas kelinci mengeluarkan perlengkapan pancing beserta umpan cacing yang sudah dipersiapkan dari sore kemarin, namun ada keanehan terjadi pada monyet yang bikin kelinci tertawa terbahak-bahak.

 “hahahahahahhahaha… apa apan kamu nyet”

“apaan sih… biasa aja kali”, jawab monyet, rada sewot

kamu kok aneh sih, kaya ga pernah mancing aja, itu kan batu”, sela kelinci.

kalo Iya emang kenapa, sapa tau ikan nya ada yang senang makan batu”  jawab monyet sekenanya.

ia … deh, terserah kamu aja”,  awas lo, jika tidak dapat ikan jangan marah”,

sambil tersenyum kelinci, mengaitkan cacing ke kail unjun nya.

  Sudah sifat monyet untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya dengan tindakan yang aneh, dia pun tau,  tidak mungkin ada ikan suka makan batu, hal itu dilakukannya untuk menutupi sifat gengsinya, karena dia lupa mencari cacing untuk umpan ikan, tapi dia malu untuk meminta pada kelinci.

  Monyet tetap pada sipat ke gengsi nya, menggunakan batu sebagai umpan pancing nya, ketika kelinci mulai mengulur pancingan nya, monyet pun ikut juga, namun tingkah monyet membuat kelinci resah, suara yang ditimbulkan monyet ketika mengulur pancingan dengan umpan batunya membuat gemericik air  yang keras,  ikan yang hampir memakan umpan cacing milik kelinci jadi terkejut dan akhirnya menjauh. 

  Kelinci hanyar bersabar, berharap tingkah sahabatnya itu cepat berubah, tapi dia rada jahil, sengaja tidak member duluan umpan cacing milik nya, berharap agar monyet lah duluan meminta.

 “hey... itu umpan ku, bilang dong kalau minta” kelinci pura pura sewot, padahal dalam hatinya, dia tertawa “monyet … monyet, selalu saja begitu”.

pelit amat seh … cuman cacing aja di pelitin” gumam monyet sambil memasang cacing ke kail unjun nya.

 

Matahari mulai memalu ke arah barat, ia pun samar samar mulai menutup tirai cahaya menandakan sore menjelang malam akan tiba, satu wadah tempat ikan dari hari pancingan dua sahabat itu mulai terisi oleh ikan tangkapan mereka berdua, kelinci sengaja tidak menghitung berapa banyak ikan yang terjerat dari kail unjun nya, sementara monyet secara diam diam di hatinya menghitung cuman sedikit ikan yang nyangkut di kail unjun nya itu.

  Senja mulai datang, mereka menyudahi aktifitas memancing nya dan monyet mendahului kelinci untuk berucap

“kelinci … mari kita hitung dan bagi ikan nya”,

“ayo ... ayo, nanti keburu malam dan gelap”

“1, 2, 3, … ada 12 ekor ikan nya” kata monyet, “sekarang kita bagi ya”


 Sambil tersenyum penuh makna, monyet melanjutkan ucapannya.


 “kamu 3 ekor saja ya, karena aku lihat kamu jarang dapat ikan”

“haaa … hmmm…kok kamu gitu sih, janjinya kan sama sama”

heeee…ia … ia, maaf aku lupa” kata monyet sambil garuk garuk kepalanya.

Hari mulai gelap, langkah langkah mereka mulai tertutup dan hilang di kegelapan malam, rasa lelah mulai terasa yang akhirnya mereka lupa arah kemana jalan menuju tempat tinggal nya, karena memang mereka baru pertama kali memancing ke sungai itu, parut mereka sudah mulai berbunyi, pertanda rasa lapar, mengharap perut mereka diisi sesuatu.  Di Sebuah pohon besar mereka menyadarkan harapan untuk melepas lelah.

  Ranting dan dahan kering mereka kumpulkan agar bisa dibakar untuk menyalakan api, monyet mulai membakar tumpukan ranting itu, dan kelinci membersihkan ikan yang akan mereka makan, kekompakan mereka memang sudah tidak bisa ditandingi dalam hal apapun, meski kejahilan kejahilan sering terjadi mewarnai hubungan mereka, namun sifat penyabar dan penyayang kelinci, membuat monyet betah bersahabat dengan nya.

  Setelah api menyala, kelinci mengambil beberapa ikan untuk jadi santapan mereka malam itu, dibersihkan ikan ikan itu, kemudian didekatkannya dekat perapian, agar ikan itu matang sehingga dapat mereka makan. Monyet kembali berulah, sifat serakah dan egois nya kembali kambuh.

  Ikan segar yang sudah matang terhampar di sebuah daun pisang, menggugah selera untuk segera menyantapnya, terdengar suara gru uuukkk…dari dalam perut monyet, pertanda perutnya ingin segera diisi, secepat kilat ia langsung mengambil dua ekor ikan yang besar itu, dan dengan lahap memakannya, tanpa memikirkan sahabat kelinci yang sedang merapikan tempat ia tadi memanggang ikan, dengan sifatnya yang rakus monyet terus melahap makanannya, hanya tertinggal satu ekor ikan yang ada di daun itu, kelinci sangat kaget.

 

apa…apaan ini, kok ikan yang banyak tadi tinggal tersisa satu ekor”

kamu kan tau, kalau aku juga sangat lapar”

Dengan tenang nya monyet menjawab

kamu sih lama banget, kan aku lapar”

Sambil tertawa terbahak bahak

bahaaaaaaa….ha..ha..ha..ha.”

Pada saat monyet tertawa, tiba tiba mulut nya dia langsung tersedak dan batuk, karena ada tulang ikan yang tersangkut di dalam tenggorokan nya.

uhukkk…ehek…ehek…”

“kelinci tolong ..ambilkan air…”

kata monyet sambil memegang lehernya

“haa…wahahaha…haha…haha..”

ogah…ambil sendiri, hahahah….hahahha”

Tawa kelinci melihat kelakuan monyet yang sempoyongan, sambil memegang lehernya.

kamu seh…rakus banget”, “jadinya kan seperti itu”

hahaha…haha..haha”  kelinci tertawa lepas, sambil mengambilkan air yang ada di dekat nya.

ini …minum, biar tulang yang ada dalam tenggorokan bisa plong”

“gluk…gluk…gluk…”,

monyet langsung meminum air yang diberi kelinci tadi.

ahhhhhhh…legah”

Tenggorokan nya mulai plong, karena tulang nya sudah tertelan bersama air yang ia minum tadi.

“maaf kan aku, ya kelinci, aku serakah, sampai sampai hampir menghabiskan ikan yang kamu masak tadi”

“ia… tidak apa apa kok, tapi jangan di ulangi lagi ya”,

Akhirnya mereka bersalaman.

Malam semakin larut, lelah di badan sudah terbayar dengan lezatnya ikan bakar dari hasil pancingan sendiri, meski mereka sadar jika mereka sedang tersesat di tengah hutan, namun dengan kebersamaan membuat kekhawatiran itu dapat ditutupi. Perapian mulai meredup, mata mereka mulai berat untuk memandang keadaan di sekitar mereka istirahat, rasa kantuk menghampiri, akhirnya mereka berpikir lebih baik tidur di dekat pohon itu dulu, dan besok akan melanjutkan perjalanan lagi menuju dimana rumah mereka berada.

 

tamat








0 Comments:

Post a Comment

Player

Archive

LAUCHING BUKU CERPEN SISWA KU

TUTORIAL Google Fom PPDB

Part 2