Loading...

Adab dan Ilmu Pondasi Utama Karakter Bangsa


        Tiga motto pendidik yang sangat ditekankan dan harus selalu dihayati dalam proses mendidik yang dirancang secara spesial oleh tokoh spesial pendidikan Bangsa Indonesia jauh sebelum era modernisasi berkembang dan tetap relevan dalam mewujudkan pendidikan yang berkarakter untuk terciptanya generasi emas di abad 21 yaitu Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik): Ki Hajar Dewantara.
            Tiga pilar motto pendidikan yang mempunyai muatan karakter digugu dan ditiru itu harus selalu ditanamkan dalam jiwa seorang pendidik terlebih dalam mendidik generasi milenial saat ini, karena generasi milenial saat ini seakan kehilangan jati diri nya, hal ini dikarenakan perilaku sosial di masyarakat yang berubah, sikap individualisme yang sangat tinggi, belum lagi perkembangan media informasi yang terus mempertontonkan perilaku-perilaku yang mampu merubah pola pikir yang condong ke negatif daripada perilaku positif. Guru sebagai pendidik harus mampu menjadi contoh suri tauladan bagi peserta didik, dan guru harus mampu sekaligus mengkombinasikan serta mengkolaborasi nya dengan teknologi yang berkembang saat ini agar generasi milenial sebagai generasi abad 21 mampu mengembalikan jati diri nya sebagai generasi yang mempunyai akar budaya yang menjunjung tinggi adab dan perilaku ketimuran.
            Pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai perancang arah pendidikan nasional menyadari betul beratnya tantangan pendidikan di era milenia saat ini dan dimasa akan datang, terbukti diterbitkannya peraturan presiden (perpres) nomor 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter, kemudian perpres tersebut dipertajam dalam permendikbud nomor 20 tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan formal dalam pasal 2 terdapat nilai-nilai karakter yang diawali dengan nilai religius. Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata religius mengarah pada unsur-unsur keagamaan atau mempunyai sifat agamis, dalam Pandangan Islam terdapat sebuah kata mutiara ( Mahfudzot ) yang berbunyi “adab itu lebih dari  ilmu”.
          Pengertian Adab masih dalam kamus besar Bahasa Indonesia merupakan budi pekerti sedangkan Ilmu mempunyai arti pengetahuan tentang sesuatu. Dua padanan kata yang berbeda namun harus selalu disandingkan perannya dalam setiap pelaksanaan pendidikan, dua kata itu merupakan kata kunci dalam mewujudkan pendidikan karakter yang terkandung dalam nilai religius tersebut, nilai-nilai religius tersebut merupakan bentuk sempurna dari nilai karakter yang ingin dicapai, karena dalam agama (religi) kita diajarkan untuk berperilaku jujur, saling menghargai (toleransi), hidup disiplin, demokratis, cinta tanah air dan sebagainya. Kesemuanya merupakan bagian dari nilai-nilai karakter yang diharapkan pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam pendidikan karakter tersebut, dengan menguatkan dan meletakkan Pondasi pendidikan karakter kepada nilai-nilai agama sebagai puncak dari pendidikan karakter, dan dalam pandangan agama, adab merupakan puncak dari tatanan perilaku, dan ilmu merupakan keharusan yang harus dimiliki setiap individu karena dalam pandangan agama, kita dituntut untuk selalu belajar dan belajar namun tetap adab sebagai unsur penyeimbangnya, karena ilmu tanpa adab bagaikan kapal yang terombang ambing di tengah lautan. Di dalam adab ( ) kita diajarkan salah satunya, untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita, kita juga diajarkan sopan santun baik terhadap orang tua, guru dan sebagainya.
           Peran guru selain sebagai model bagi siswanya, juga harus mampu memberikan rangsangan yang nyata dalam penerapan nilai-nilai religiusitas tersebut, banyak sekolah sudah menerapkan pembiasaan diri dalam mewujudkan pendidikan karakter yang diantaranya, mewajibkan siswa sholat dhuha, dzuhur bersama, membaca ayat suci sebelum mengawali pelajaran, memberikan nilai plus bagi siswa yang rajin bersyukur baik ketika mendapat hasil yang baik dalam belajar, maupun ketika siswa mendapat nilai kurang, namun tetap bersyukur ketika keluar dari ucapannya, karena nilai-nilai religius tidak bisa dinilai dengan angka-angka, akan tetapi hanya dapat dinilai dengan perilaku dan perbuatan, serta pujian. hal ini lah yang  akan menumbuhkan semangat bagi siswa nya untuk mengamalkan nilai-nilai agama tersebut.
             Peran agama (religi) tidak bisa dihapus dalam pendidikan karakter, agama merupakan pelita ketika individu mengalami kebuntuan dalam menerapkan ilmu yang sudah didapat, pendidikan hanya memberikan ilmu-ilmu yang tujuannya untuk memberikan kebahagian didunia, akan tetapi agama sangat luas cakupan nya sehingga ilmu pun tidak mampu menandinginya, sehingga pantaslah dalam pendidikan karakter nilai-nilai religius sebagai ujung tombak dari pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia.

http://epaper.radarbanjarmasin.co.id/arsip/byTanggal/2019-03-10

0 Comments:

Post a Comment

Player

Archive

LAUCHING BUKU CERPEN SISWA KU

TUTORIAL Google Fom PPDB

Part 2